Seumur Hidup Jadi Tongkat Bagi Ibunda

Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi.......

Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……” (Dajiyuan/prm)

"And whatsoever ye do, do it heartily, as to the Lord, and not unto men"
(Colossians 3:23)

Saya Pernah Datang Dan Saya Sangat Penurut

Yu Yuan

Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat yang berjuang hidup dari Leukimia Ganas, setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Sungguh .. tak abis kata2 untuk Yu Yuan. Terima kasih telah memberikan contoh mulia kepada kami…



Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.
Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”.
Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini”. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.

Kesimpulan:
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia.

Walaupun hidup serba kekurangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.

Sumber: www.yauhui.net

Gadis Puntung Tersenyum Menyambut Dunia

Qian Hongyan


Qian Hongyan mengalami kecelakaan dan kehilangan kedua kakinya bahkan pinggulnya, dan perlu mencari jalan keluar.
Qian Hongyan had to have her legs removed after a car accident, but has managed to find a new way of moving around.



Keluarganya di Cina miskin dan tidak dapat membeli kaki palsu, maka ia menggunakan bola basket untuk memudahkan gerakannya. Qian Hongyan juga dikenal sbg Basket Ball Girl.
Her family in China are poor and couldn’t afford false legs, so she uses a basketball to help her move.



Qian menggunakan dua sangga kayu untuk menyeret tubuhnya dan tidak mengeluh, walau dia telah gonta ganti bola basket 6 kali.
Qian uses two wooden props to drag herself, and never complains, even though she has worn through six basketballs.



ia tetap ke sekolah, walaupun harus bersusah payah ke sana.



Dan.. ia tetap tersenyum menyambut dunia


Setelah beberapa lama, ada yang berbaik hati dan menyumbangkan kedua kaki palsu untuk Qian HongYan








Qian juga menghibur teman senasib... Dan.. Tetap Tersenyum menyambut dunia ini..

Kini Qian telah berumur 11 tahun, Ia bercita-cita mengikuti lomba olympic renang cacat sedunia di London thn 2012 nanti.



Persiapan-persiapan yang dilakukan Qian untuk mengikuti lomba adalah lebih giat berlatih.







Kuasa Penyembuhan dari Pengampunan


By: James E. Faust

Jika kita dapat menemukan pengampunan di dalam hati kita bagi mereka yang telah menyebabkan kita terluka dan sakit, kita akan naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam penghargaan diri dan kesejahteraan diri.

Saudara-saudara dan teman-teman yang terkasih, saya datang di hadapan Anda dengan kerendahan hati dan penuh doa. Saya ingin berbicara mengenai kuasa penyembuhan dari pengampunan.

Di bukit Pennsylvania yang indah sekelompok orang Kristen yang beriman menjalani kehidupan yang sederhana tanpa mobil, listrik, atau mesin modern. Mereka bekerja keras dan menjalani kehidupan yang tenang dan damai terpisah dari dunia. Kebanyakan dari makanan mereka berasal dari ladang mereka sendiri. Para wanita menjahit dan merajut serta menenun pakaian mereka, yang sopan dan sederhana. Mereka dikenal sebagai orang-orang Amish.

Seorang sopir truk susu berusia 32 tahun tinggal bersama keluarganya di lingkungan Pertambangan Nickel mereka. Dia bukan orang Amish, tetapi jalur pengambilannya membawanya ke banyak penghasil susu orang-orang Amish, dan dia menjadi dikenal sebagai pengantar susu yang tenang. Bulan Oktober lalu tiba-tiba dia kehilangan kesadaran dan kendali dirinya. Dalam pikirannya yang tersiksa dia mempersalahkan Tuhan atas kematian anak pertamanya dan kenangan-kenangan yang belum terbukti kebenarannya. Dia membuat keributan di sekolah Amish tanpa alasan. Melepaskan para pemuda dan orang dewasa, dan mengikat 10 gadis. Dia menembak para gadis itu, membunuh lima orang dan melukai lima orang. Kemudian dia mengakhiri hidupnya sendiri.

Kekerasan yang mengejutkan ini menyebabkan kepedihan yang mendalam di antara orang-orang Amish tetapi bukan kemarahan. Ada sakit hati namun bukan kebencian. Pengampunan mereka terjadi dengan segera. Bersama-sama mereka mulai menjangkau keluarga pengantar susu yang menderita ini. Sewaktu keluarga pengantar susu itu berkumpul di rumahnya sehari setelah penembakan, seorang tetangga warga Amish datang, merangkul ayah lelaki bersenjata yang mati itu, dan mengatakan, “Kami akan mengampuni Anda.” Para pemimpin Amish mengunjungi istri pengantar susu dan anak-anaknya untuk memberikan rasa simpati mereka, pengampunan mereka, bantuan mereka, dan kasih mereka. Sekitar setengah dari orang-orang yang berkabung di pemakaman pengantar susu adalah orang-orang Amish. Sebaliknya, orang-orang Amish mengundang keluarga pengantar susu untuk menghadiri upacara pemakaman para gadis yang telah terbunuh. Kedamaian yang luar biasa menyelimuti orang-orang Amish ketika iman mereka menopang mereka selama krisis ini.

Seorang penduduk setempat dengan eloknya menyimpulkan tragedi ini ketika dia mengatakan, “Kita semua berbicara bahasa yang sama, dan bukan hanya bahasa Inggris tetapi bahasa perhatian, bahasa masyarakat, dan bahasa pelayanan. Dan, ya, bahasa pengampunan.” Itu merupakan suatu pencurahan yang menakjubkan dari iman mereka yang dalam atas ajaran-ajaran Tuhan dalam Khotbah di Bukit: “Berbuat baiklah kepada mereka yang membenci kamu, dan berdoalah untuk mereka yang iri hati kepada kamu.”
Keluarga pengantar susu yang membunuh lima gadis mengeluarkan pernyataan berikut kepada khalayak umum:

Kepada teman-teman Amish, tetangga, dan masyarakat setempat:

Keluarga kami ingin Anda masing-masing mengetahui bahwa kami dipenuhi dengan pengampunan, keramahan, dan kemurahan hati yang telah Anda berikan kepada kami. Kasih Anda bagi keluarga kami telah membantu menyediakan kesembuhan yang sangat kami perlukan. Doa, bunga, kartu, dan hadiah yang telah Anda berikan telah menyentuh hati kami dengan cara yang tidak dapat diuraikan. Belas kasih Anda telah menjangkau kepada keluarga kami, masyarakat kami, dan mengubah dunia kami, dan untuk ini kami sungguh-sungguh berterima kasih.
Ketahuilah bahwa hati kami telah hancur dengan apa yang telah terjadi. Kami sangat berduka bagi semua tetangga Amish yang kami kasihi dan akan terus kasihi. Kami tahu bahwa ada banyak hari yang sulit untuk semua keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih, dan karenanya kami akan terus menaruh harapan dan kepercayaan kami kepada Tuhan untuk semua penghiburan, sewaktu kami semua berusaha untuk membangun kehidupan kami.”

Bagaimana mungkin semua kelompok orang Amish memperlihatkan ungkapan pengampunan semacam itu? Itu karena iman mereka kepada Tuhan dan percaya kepada firman-Nya, yang merupakan bagian dari sifat-sifat dalam diri mereka. Mereka melihat diri mereka sendiri sebagai murid-murid Kristus dan ingin mengikuti teladan-Nya.
Mendengarkan tragedi ini, banyak orang mengirimkan uang kepada orang-orang Amish untuk membiayai perawatan kesehatan kelima gadis yang selamat dan membiayai pemakaman kelima gadis yang terbunuh. Sebagai pernyataan lebih lanjut dari kemuridan mereka, orang-orang Amish memutuskan untuk membagikan sejumlah uang kepada janda pengantar susu itu dan ketiga anaknya karena mereka juga adalah korban dari tragedi yang mengerikan ini.
Pengampunan tidak selalu terjadi seketika sebagaimana yang dialami orang-orang Amish. Ketika anak-anak yang tidak berdosa dianiaya atau dibunuh, kebanyakan dari kita tidak berpikir dahulu mengenai pengampunan. Tanggapan alami kita adalah kemarahan. Kita bahkan mungkin merasa membenarkan diri untuk “membalas” kepada orang yang menimbulkan luka pada diri kita atau keluarga kita.

Dr. Sidney Simon, seorang ahli yang dikenal dalam hal nilai-nilai realisasi, telah menyediakan definisi yang baik tentang pengampunan karena hal itu berlaku dalam hubungan manusia:
“Pengampunan adalah membebaskan dan menempatkan untuk penggunaan yang lebih baik energi yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan dendam, melindungi kebencian, dan merawat luka yang tak tersembuhkan. Pengampunan adalah menemukan kembali kekuatan yang senantiasa kita miliki dan meletakkan kembali kemampuan kita yang tak terbatas untuk memahami dan menerima orang lain serta diri sendiri.”

Kebanyakan dari kita memerlukan waktu untuk mengatasi rasa sakit dan kehilangan. Kita dapat menemukan semua bentuk alasan untuk menunda pengampunan. Salah satu alasan ini adalah menunggu orang yang bersalah untuk bertobat sebelum kita mengampuni mereka. Namun penundaan semacam itu menyebabkan kita kehilangan kedamaian dan kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik kita. Kesalahan dari terus menerus memikirkan luka lama tidak membawa kebahagiaan.
Ada orang yang mendendam seumur hidup, tidak menyadari bahwa dengan berani mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita adalah menyembuhkan dan mengobati.
Pengampunan datang dengan lebih mudah ketika, seperti orang-orang Amish, kita memiliki iman kepada Tuhan dan percaya kepada firman-Nya. Iman semacam itu “memungkinkan orang untuk menahan kejahatan umat manusia. Iman juga memungkinkan orang untuk memikirkan orang lain. Yang lebih penting lagi, iman memungkinkan mereka untuk mengampuni.”

Kita semua menderita luka dari pengalaman-pengalam an yang kelihatannya tidak memiliki sebab atau alasan. Kita tidak dapat mengerti atau menjelaskannya. Kita mungkin tidak tahu mengapa hal-hal terjadi dalam kehidupan ini. Alasan untuk beberapa penderitaan kita hanya diketahui oleh Tuhan. Tetapi karena itu terjadi hal itu harus ditanggung. Presiden Howard W. Hunter mengatakan bahwa “Tuhan tahu apa yang kita tidak tahu dan melihat apa yang kita tidak lihat.”
Presiden Brigham Young membagikan pengetahuan luar biasa ini bahwa setidaknya beberapa dari penderitaan kita memiliki tujuan ketika dia mengatakan: “Setiap bencana yang dapat menimpa manusia fana akan diizinkan untuk menimpa beberapa orang, untuk mempersiapkan mereka menikmati hadirat Tuhan …. Setiap pencobaan dan pengalaman yang telah Anda lalui adalah penting bagi keselamatan Anda.”

Jika kita dapat menemukan pengampunan di dalam hati kita bagi mereka yang telah menyebabkan kita terluka dan sakit, kita akan naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam penghargaan diri dan kesejahteraan diri. Beberapa kajian terkini menunjukkan bahwa orang yang diajar untuk mengampuni menjadi “tidak suka marah, lebih memiliki pengharapan, tidak tertekan, tidak cemas, tidak tegang,” yang menuntun kepada kesejahteraan jasmani yang lebih besar. Kajian-kajian lainnya menyimpulkan “bahwa pengampunan adalah sebuah hadiah kebebasan yang orang-orang dapat berikan kepada diri mereka sendiri.”
Di zaman kita Tuhan telah memperingatkan kita, “Hendaknya kamu saling mengampuni …” dan kemudian membuatnya penting ketika Dia mengatakan, “Aku, Tuhan, akan mengampuni orang yang hendak Aku ampuni, tetapi daripadamu diminta untuk mengampuni semua orang.”

Seorang sister yang telah mengalami perceraian yang menyakitkan menerima beberapa nasihat yang baik dari uskupnya: “Sediakan tempat di hati Anda untuk pengampunan, dan ketika hal itu datang, sambutlah masuk ke dalamnya.” Bagi orang-orang Amish, itu sudah ada karena “pengampunan adalah unsur ‘sepenuh hati’ dari agama [mereka].” Teladan pengampunan mereka merupakan ungkapan yang luhur dari kasih umat Kristen.
Di Salt Lake City ini tahun 1985, Uskup Steven Christensen meskipun bukan karena kesalahannya sendiri , telah dibunuh secara kejam dan tidak masuk akal dengan sebuah bom yang ditujukan untuk mengambil nyawanya. Dia adalah anak lelaki Mac dan Joan Christensen, suami Terri, dan ayah dari empat anak. Dengan persetujuan orang tuanya saya membagikan apa yang mereka petik dari pengalaman ini. Setelah kematiannya yang mengerikan, media surat kabar memberitakan mengenai anggota keluarga Christensen tanpa henti. Dalam satu kesempatan media ini menyinggung perasaan salah satu anggota keluarga ini dengan masalah bahwa ayah Steven, Mac, telah mengendalikannya. Mac kemudian berpikir, “ Hal ini akan merusak keluarga saya jika kami tidak mengampuni. Kesengitan dan rasa benci tidak akan pernah berakhir jika kami tidak mengeluarkannya dari hati kami.” Kesembuhan dan kedamaian datang ketika keluarga membersihkan hati mereka dari kemarahan, dan mampu memaafkan lelaki yang mengambil nyawa anak lelaki mereka.

Baru-baru ini kami memiliki dua tragedi lain di Utah yang memperlihatkan iman dan kuasa penyembuhan dari pengampunan. Gary Ceran, yang istri dan dua anaknya terbunuh pada Malam Natal ketika kendaraan mereka ditabrak sebuah truk, segera menyatakan pengampunan dan keprihatinannya kepada sopir yang terbukti mabuk. Bulan Februari yang lalu, ketika sebuah mobil menabrak kendaraan Uskup Christopher Williams, dia memiliki keputusan yang harus diambil dan itu adalah untuk “mengampuni tanpa syarat” sopir yang telah menyebabkan kecelakaan agar proses penyembuhan tak terhalangi.
Apa yang kita semua dapat pelajari dari pengalaman-pengalam an ini? Kita perlu mengakui dan mengenali perasaan-perasaan amarah. Akan diperlukan kerendahan hati untuk melakukan ini, tetapi jika kita mau berlutut dan memohon kepada Bapa Surgawi bagi perasaan pengampunan, Dia akan membantu kita. Tuhan menghendaki kita “untuk mengampuni semua orang” demi kebaikan kita sendiri karena “rasa benci menghalangi pertumbuhan rohani.” Hanya ketika kita membersihkan diri kita dari kebencian dan kegetiran Tuhan memberikan ketenangan ke dalam hati kita, seperti yang Dia lakukan kepada masyarakat Amish, keluarga Christensen, Ceran, dan William.

Tentu saja, masyarakat perlu dilindungi dari kejahatan-kejahatan keras karena “belas kasihan tidak dapat merampas keadilan.” Uskup William menyampaikan konsep ini dengan baik ketika dia mengatakan “Pengampunan adalah sumber kekuatan. Tetapi tidak meringankan kita dari akibat-akibatnya.” Ketika tragedi menimpa, kita sebaiknya tidak menanggapi dengan mencari pembalasan dendam pribadi, melainkan membiarkan keadilan berjalan, dan kemudian membiarkannya pergi. Tidaklah mudah untuk membiarkan pergi dan mengosongkan hati kita dari kebencian yang timbul. Juruselamat telah menawarkan kepada kita semua kedamaian yang indah melalui Kurban Tebusan-Nya tetapi ini bisa datang hanya ketika kita mau membuang perasaan- perasaan negatif akan kemarahan, iri hati, pembalasan dendam. Bagi kita semua yang mengampuni “mereka yang bersalah kepada kita,” bahkan mereka yang telah melakukan kejahatan serius, Kurban Tebusan membawa kedamaian dan penghiburan.

Marilah kita mengingat bahwa kita perlu mengampuni agar diampuni. Dalam lirik dari salah satu lagu rohani favorit saya, “O, ampunilah orang lain/ Seperti engkau ingin diampuni.” Dengan sepenuh hati dan jiwa saya, saya percaya akan kuasa penyembuhan yang dapat datang kepada kita sewaktu kita mengikuti nasihat Juruselamat “untuk mengampuni semua orang.” Dalam nama Yesus Kristus, Amin!

Nenek Bangun Lagi Setelah Meninggal 17 Jam


CHARLESTON - Seorang nenek renta hidup lagi setelah dinyatakan meninggal selama 17 jam akibat gagal jantung.
Jantung Velma Thomas (59) telah berhenti tiga kali dan para dokternya mengira ia sudah meninggal. Tetapi ketika semua alat bantu dicopot, Velma malah bangun. Ajaib.

Akhir pekan lalu, Velma dilarikan ke sebuah rumah sakit di West Virginia karena jantungnya berhenti berdenyut setelah ia mengalami gejala serangan jantung. Lebih dari 17 jam kemudian perempuan itu tidak menunjukkan aktivitas otak.

Dokter pun mencoba segala cara untuk menyelamatkan hidup Velma, termasuk hipotermia, yaitu menurunkan suhu tubuhnya, dan menstimulasi otak. Namun segala upaya itu tidak membuahkan hasil. Menurut ahli penyakit dalam, dr Kevin Eggleston, tidak ada tanda-tanda berfungsinya saraf di tubuh perempuan itu.
“Sudah tidak ada lagi kehidupan. Kulitnya sudah mulai mengeras. Tangan dan kukunya mulai menekuk,” kata Tim Thomas, putra Velma.

Namun mereka masih sulit mengambil keputusan melepas semua alat bantu, meski akhirnya mereka sepakat karena tidak ada harapan lagi.
“Saya katakan, ‘Tuhan, tunjukkan kami sesuatu’,” kata Daniel Pence, salah satu kemenakan Velma, kepada ABC News.

“Kami hanya berdoa, berdoa dan berdoa. Dan saya sampai pada kesimpulan ibu tidak bisa bertahan. Saya merasakan kedamaian, bahwa saya telah mengambil keputusan,” kata Tim setelah memutuskan mencopot alat bantu Velma.

Di saat keluarga mengucapkan selamat tinggal, para perawat mulai melepas respirator. Mereka pun mulai membicarakan rencana pemakaman. Tim pun meninggalkan rumah sakit untuk mengurus pemakaman.

Lalu, terjadilah keajaiban itu. Sepuluh menit setelah perawat mematikan respirator dan melepas selang dari hidungnya, Velma bangun. “Dia menggerakkan tangan, tetapi kami kira itu gerakan reflek,” kata Pence.

Para perawat pun menelepon Tim yang sudah beberapa mil meninggalkan rumah sakit, lewat ponselnya. Mereka mengatakan Velma sudah bergerak dan menunjukkan detak jantung.
Velma ternyata kemudian menggerakkan tangan, kaki lalu batuk dan membuka mata. Keajaiban terus berlangsung ketika perempuan renta itu mulai berbicara.

Begitu Tim tiba lagi di rumah sakit, Velma mulai menanyakan keberadaannya. “Dia mulai bertanya, ‘Mana anak saya?” kata Tim.
Sang dokter pun tidak banyak bicara. “Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh dokter dan perawat seperti kami. Dan ini salah satunya,” kata Eggleston.