Sejak aku berusia dua tahun, ayah dan bunda bercerai karena faktor ekonomi. Ayahku tidak punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga. Enam belas tahun lamanya bunda meninggalkan kami tanpa kabar atau berita, bahkan akupun tidak ingat lagi bagaimana raut wajahnya. Selama ayah dan bunda berpisah, aku tinggal dengan nenek. Dua tahun yang lalu bunda pernah datang ke sekolah dan seorang guru memperkenalkannya kepadaku, “An, ini Bundamu!”. “Bunda??? Untuk apa dia ke sini?” tanyaku dalam hati. “Hai An, kau sudah besar ya sekarang!” kata bunda memberi salam. ”Hai juga”, jawabku dingin. Dalam hati aku bertanya, “Apakah aku mirip dengannya?” Beberapa menit kemudian kami berpisah ketika itu salah seorang temanku datang dan mengajakku berfoto bersama.Aku bertemu bunda untuk kedua kalinya di pemakaman nenek. Bunda berusaha mendekati dan berbicara denganku, tetapi aku selalu menghindar.
Suatu saat di hari minggu aku pergi beribadah dan di pintu masuk aku menjumpai anak-anak remaja yang masuk bersama dengan orang tua mereka. “Selamat pagi dan selamat Hari Ibu”, sapa Ibu Gembala kepada jemaat yang datang, termasuk kepadaku. “Ambillah anyelir merah bila ibumu masih hidup dan anyelir putih jika ibumu sudah tiada. Nanti akan ada moment menyerahkan bunga untuk para ibu”, kata Ibu Gembala sambil menunjuk sekumpulan bunga anyelir. “Bunga warna apa yang akan kuambil?” Itulah pertanyaan yang tersirat di benakku. Nenek sudah meninggal dan bunda tidak tahun di mana. Karena harus memilih, maka terpaksa aku mengambil anyelir putih dan duduk di kursi paling belakang. Aku bergumul dengan perasaanku sendiri sehingga tidak menyadari bahwa ibadah sudah berjalan cukup lama. Ketika menyanyikan lagu pengampunan, mataku terarah ke salib besar yang dipajang di belakang mimbar. Ada kekaguman di hatiku ketika mengingat pengampunan Yesus atas dosa-dosaku yang besar. “Yesus, kuharap Engkau mengerti mengapa aku mengambil anyelir putih. Bukankah Engkau juga pernah ditolak dan dikecewakan oleh orang-orang yang Kaukasihi? Tetapi mengapa Engkau memilih untuk mengampuni mereka? Tuhan, tolonglah aku untuk mengasihi bunda yang sudah mengecewakanku.” Tak terasa air mata menetes begitu deras di pipiku. “Tuhan, tolonglah aku supaya ketika bertemu bunda, aku dapat mengampuni dan menerima kehadirannya dalam hidupku,” itulah doa singkat yang mengubah sikapku yang apatis dan juga yang membebaskanku dari kebencian yang dalam terhadap bunda.Aku membalikkan badan dan melihat keranjang bunga di belakang. Anyelir merah sudah habis, tetapi ada anyelir merah bercampur putih di atas meja. Aku berdiri dan mengambil anyelir itu sembari menggumam. “Ah Tuhan, Engkau sangat mengerti isi hatiku. Terima kasih Tuhan aku mengasihi Engkau dan bunda!.
Pemulihan hubungan keluarga yang putus membutuhkan waktu, keputusan dan kemauan yang keras untuk menanggalkan kemarahan dan kepahitan hati. Ketika orang yang kita kasihi tanpa sengaja menyakiti kita, mungkin itu terasa lebih menyakitkan jauh melebihi rasa sakit ketika kita dicaci-maki musuh yang sengaja menyerang kita. Tetapi perlu kita ketahui bahwa peristiwa-peristiwa yang menyakitkan itu adalah sebuah ujian bagi kita. Ujian, apakah kita bersedia mengampuni dan memperbaiki hubungan yang retak dengan mereka yang kita kasihi.
God Bless!!
No comments:
Post a Comment